I am Sorry To Delay You

Namanya Putra. Dia Ganteng. Anak Orang kaya. Dan yang pasti dia ketua Osis di sekolah gue. Dia punya peliharaan ikan koki yang diberi nama ‘Labiosa’. Dia bilang dia adalah VEGETARIAN yang SUKA MAKAN DAGING. Memang aneh.
Oke find bikin kesel nih orang.
            Sekitar lima menit yang lalu gue baru aja keluar dari ruang osis. Dan sekarang gue sedang berjalan ke ruang kelas gue. Ah, sedikit kesal. Sampe akhirnya gue nyampe di ruang kelas tiba-tiba Rendi manggil gue buat ketemu sama Pembina Osis di ruangannya. Gue tau akar masalahnya, Sudah di bahas waktu rapat inti tadi.
            Tok…Tok…Tok
Masalah Kas Osis. Kalian bisa menebaknya, ya kalian bener Gue bendahara Osis.
Assalamualaikum buk…” Ucap Rani di Ambang Pintu. Ruang Pembina Osis.
Gue lihat ketua osis –Putra-  sudah ada di dalam. Gue pun segera duduk di samping putra dan berhadapan dengan buk Rena. Pembina Osis.
“Jadi bagaimana…?” Tanya bu Rena. “Apa kendalanya…?” Tanya guru muda sekaligus Pembina Osis itu.
Rani dan Putra pun saling berpandangan sekilas. Mereka bingung harus memulai dari mana.

“Kok elo bilang bu Rini sih?” gue bertanya dengan nada sedikit kesal. Harusnya ini sudah selesai sejak rapat tadi. “Lo mau permaluin gue di depan bu Rini?”
“Biar dia bilang gue Bendahara yang kurang baik….”
“Untung gue bisa ngasih pemahaman sama bu Rini…”
“Udah ngomongnya?” Mata gue sedikit melotot. “Lo tau ga sih ini kantin?”
“Ya tau…” Gue sedikit mereda. “Kita bahas ini setelah kita makan…” Kata Gue akhirnya.

“Heh…kesel…”
“Bruk…Bruk…Bruk…” Tumpukan proposal mendarat dengan kasar ke meja kayu  itu.
“Kenapa sih lo Ran, heran gue. Ribet sendiri tau ga? Bolak balik kelas kayak lagi nyetrikain baju kusut…” Heran Dianti.
“Ya…gue emang setrika. Heh…gue licinin bener tu orang. Kesel tau gak…”
“Eh tenang dulu…kenapa sih?” Tanya Mita.
Rani menarik nafasnya sejenak. Dan menarik simpul di bibirnya sebentar. “Gue beruntung banget ya masih punya temen yang baik banget kayak lo berdua. Dan, Mit…”
“Gak kayak itu tuh. Orang kok ya selalu bikin kesel sih.”
“haha…udah-udah sampe sini gue dah tau kok siapa yang bikin elo kesel. Ga perlu cerita juga udah tau pasti Putra kan…” Dianti coba menebak.
“Wah. Sayangnya kali ini eloooo…bener Dan…”
Saat Rani sedang asik mengobrolkan keluh kesahnya dengan Dianti dan Mita tiba-tiba Putra masuk dan menyela obrolan mereka.
“Katannya udah ga mau di bahas lagi. Eh taunya…dasar cewek. Mudah baper…” Kemudian Putra berlalu menuju  mejanya.
“Tuh..tuh kan Dan, tuh kan Mit emang nyebelin ya…”
“Hustt udah-udah…”
Bel masuk berbunyi  jam pelajaran ketiga di mulai kembali.

“Nih…martabak kesukaan lo. Tanda minta maaf  buat yang kemaren…” Ucap Putra di suatu jam istirahat sekolah. Duduk disamping Rani.
“Mau nyogok…enggak usah. Lagi pula gue bukan tipe pendendam. Udah gue maafin…” Ucap Rani tanpa menoleh sedikitpun ke putra, dia sibuk menyelesaikan buku kas OSIS.
“Oh…Oke yaudah. Makasih udah di maafin...”
“Hah…” Rani mengerenyitkan dahinya.
“Hmm…eh Nanad sini, nih martabak buat lo…”
“Buat Nanad?” Tanya gadis berkacama yang memakai rok abu-abu selutut itu. “Iya buat Nanad…” kata Putra meng-iyakan.
“Unchhh..makasih ya putra. Putra baik deh…” Gadis itu mengedipkan sebelah matanya.
“Thanks ya…” katanya lagi lalu berlari menuju segerumpulan murid yang berada di meja guru.

Rani memukul Putra yang masih berada di sampingnya dengan kesal. “Ih…”
“Loh kok lo mukul gue sih?” Putra memegangi tangannya yang menjadi objek pukul itu.
“Kok lo kasih martabaknya ke Nanad sih?…”
“Kan tadi lo bilang ga mau, yaudah daripada mubajir kan…” Ucap putra.
“Ih putra, gue tu mau tau. Lo tau ga sih? Gue tu jual mahal. Harusnya lo tu bujuk gue ‘Ran ayo dong Ran, gapapa ini martabaknya makan aja. Pliss dong maafin gue’ lo tu emang ya ga ga peka banget…”
“Katanya udah maafin gue. Gimana sih, kok jadi marah lagi”
“Ah tau deh. Yaudah sekarang bantu gue nih nyelesain KAS…”
“Ya udah jangan marah lagi dong. Gini aja ntar pulang sekolah kita beli lagi…” Kata Putra.
                        Usai bel sekolah putra menepati janjinya mengajak Rani untuk membeli martabak favoritnya itu. Selama berada di atas satu motor mereka banyak mengobrol bukan hal penting. Hanya pertanyaan yang butuh jawaban singkat. Kayak “Ran, lo beneran cewek kan?”
“Hah, apaan sih lo put.” Rani menepuk pundak putra. “Yaiyalah gue cewek. Lo ga lihat tiap hari rambut gue dikuncir…”     Putra tertawa renyah.
“Mbak gue adalah cewek yang paling lembut. Gue kira semua cewek itu lembut dan perhatian kayak dia. Ternyata ada juga yang cetakannya salah. Terlalu keras…” “Lo nyindir gue…”
“Asal lo tau ya, gue memperlakuakan seseorang itu tergantung gimana dia memperlakukan gue juga. Nah elo selalu bikin gue kesel, gimana gue ga bawaannya darah tinggi mulu kalau lagi sama lo…” Putra tertawa. “Hahaha...jangan sering marah-marah ah, cepet tua”
“Udah deh ga lucu, justru elo tu jangan banyakan ketawa nanti disangka gila…”
Motor putra melesat ke sebuah Warung Makan sesuai dengan arahan gadis di belakangnya itu.
“Mau ajak gue makan ya?”
“Ih enggak geer banget sih jadi orang nggak… gue mau ketemu papa dulu…”
“Oh nemenin papanya makan?”
“Enggak…”
“Terus…”
“Usaha papa aku…” Rani menujuk warung itu dengan jempolnya. Papanya pemilik Warung Makan tersebut. Putra mengangguk mengerti. “Oh, jadi anaknya orang minang…tambuah ciek…” ucapnya sambil memperagakan salah satu iklan yang ada di TV.
“Lo tau gak gue paling suka sama rendang…”
“Loh bukannya lo vegetarian…”
“Pengecualian buat rendang…” dia tertawa, Rani juga. “Oh kalau gitu, sekali-kali mampir aja makan rending disini, hehe…” Rani tersenyum ramah…”
“Oke deh kapan-kapan  ya…” kata putra.
“Oh iya, udah mau sore, gue pulang dulu ya…”
“Okee…thank ya. Makasih juga untuk martabaknya…”
“Okee…gue duluan ya...” Putra melesatkan baja merahnya itu.
            Rani berjalan melewati koridor sekolah hendak menuju ke tiap-tiap ruang kelas, meminta Iuran untuk acara Yudisium kelas dua belas di temani oleh putra, dan Sania sekertaris acara.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Ucap putra
“Kami dari Panitia Acara Yudisium. Ingin memberitahukan kepada teman-teman semua, sepeti yang telah di beritahukan kepala sekolah pada upacara bendera senin lalu bahwasanya kita akan mengadakan acara Yudisium maka untuk menindaklanjuti pengumuman tersebut sesuai  dengan yang telah kita sepakati bahwasanya setiap siswa dimintai untuk memberikan sumbangan sebesar dua puluh lima ribu, maka disini kami datang untuk mengambil uangnya. Sekaligus kami ingin mendata bagi teman-teman yang mau atau ingin berpartisipasi di acara tersebut kami persilahkan…” Terang putra.
“Hmm mungkin Sania  bisa di data, teman-teman yang mau berpartisipasi…”
“Oke Put…” balas Sania.
“Oke buat temen-temen yang mau ikut berpartisipasi bisa ke Sania. Tapi sebelumnya mungkin bisa kasih iurannya dulu ke Rani…”
Gue tersenyum sekenanya, pasalnya gue udah mulai muak berurusan dengan uang. Untung putra masih mau bantuin gue.
“Eh iya tunggu dulu ya, satu-satu ya…” Ucap Rani sambil menceklist satu-persatu nama siswa. Repot.
Siiipp beres.

            Beberapa minggu ini Osis sering sekali mengadakan rapat membicarakan agenda Yudisium yang sudah H-30 hari. Persiapan harus dilakukan sematang mungkin. Acara rapat sudah sampai ke pembahasan pengisi acara. Rani merasa lega karena dana  untuk acara nanti sudah terselesaikan dan tidak ada masalah lagi.
“Gimana Rapatnya?” Tanya Mita.
“Lancar…” Balas Rani
“Udah akur sama Putra kayaknya nih anak. Udah adem ayem soalnya. Hahaha…” Goda Dianti.
“Memangnya siapa yang berantem?”
“Idih pura-pura lupa ya Dan, si Rani…”
“Iya nih, jangan-jangan…”
“Hustt enggak ya.Eh tapi kalian berdua tau gak. Kalian udah gue daftarin buat ngisi acara Yudisium nanti…”
“Hah apaa?”
“Iya…Jadi nanti sore kalian latihan nari ya. Sekitar jam tigaan. Nanti biar gue yang ngelatih kalian dengan anak-anak yang lain…”
“Hah nari…” Seru Dianti dan Mita kompakan lagi.
“Ih Rani jahat ah ga bilang-bilang mau daftarin kita…”
“Hehe…pokonya mau ga  mau suka ga suka pokoknya harus. Aku tunggu jam tiga di sekolah yaa…”

            Hari demi hari menuju hari H, panitia semakin sibuk mempersiapkan acara. Semua dipersiapkan secara matang. Guru-gurupun juga nampak heboh. Gosip beredar bahwa ketua Osis dan bendaharanya akan tampil mengisi acara. Mereka akan berduet bersama.  Sudah H-3 tapi sepertinya ada masalah dengan Rani.
“Yah gimana dong…udah H-3 acara. Padahalkan gue pengen banget denger lo nyanyi” kata Mita.
“Elo sih kebanyakan makan santen...jadi serek kan tuh suara…” Dianti menimpali.
“Ya gimana dong…” Suara Rani terdengar serak hampir hilang. Sesekali dia berdehem ria.
Putra datang menghampiri mereka. “Yah put kayaknya hari ini Rani ga bisa ikut latihan deh. Suara dia bermasalah…”
“Iya suaranya serak seperti kodok…” Kata Dianti. Rani memukul lengan Dianti agak kesal.
“Ikut gue…” Putra menarik tangan Rani.
.
.
“Susu jahe hangatnya dua ya buk…” Kata Putra.
“Kok lo ngajak gue kesini?” tanya Rani. Suaranya masih serang.
“Ga usah ngomong nih tulis aja”
Rani menulis ke sebuah note yang diberi putra. “Kita ngapain ke sini?”
“Tadinya gue mau ngajak lo ke kantin sekolah. Cuma gue rasa gue perlu Sesuatu yang bisa buat suara lo pulih lagi makanya gue ajak lo kesini.”
“Gue paling suka nongkrong disini. Susu jahe disini memang favorit gue banget, apalagi mbak-mbaknya hehe…”
Rani menulis lagi. Genit. Tulisnya. Putra tersenyum
“Lo tau ga? Sebenernya sejak kita berantem waktu itu gue udah suka sama lo. Cuma gue masih perlu ngeyakinin ini perasaan suka beneran atau enggak. Ternyata lo emang bener-bener sukses buat gue suka sama lo…”
“Dia suka gue…” Rani menelan sedikit ludahnya. Matanya mengisyaratkan pertanyaan “Kenapa loe suka gue?” dan sepertinya Putra menangkap itu.
Kemudian lo akan tau sendiri apa yang terjadi antara gue dan putra…        
            Dan ini harinya, acara hari ini berjalan cukup lancar mulai dari acara penyambutan dengan menampilkan penampilan tari daerah Palembang yang dibawakan oleh Mita, Dianti dan kawan-kawan,. Selain itu ada enampilan Pencak silat,paduan suara, acara sambutan-sambutan, serta acara inti yaitu prosesi Yudisium kakak-kakak kelas sampai akhirnya acara non-formal. Kali ini giliran Rani dan Putra yang akan tampil. Sania selaku MC sudah memanggil nama mereka dari tadi, tetapi mereka tak kunjung menaiki panggung. Di balik panggung Rani dan Putra masih bersiap-siap.
“Eeee… mungkin sebelum penampilan dari Rani dan Putra, kita dengerin puisi berantai dulu yuk. Mari kita panggilkan Andre dan kawan-kawan. Beri tepuk tangan yang meriah…”
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…” Ucap Andre
“Kami dari The Clue ingin membawakan Puisi Berantai saya Andre akan berperan sebagai Si Religius…”
“Saya Ucup sebagai Si Cerdas...”
“Saya Dudu Sebagai Si Galau…”
“Dan sayaaa Nanaaad sebagai Si Lebay…” Ucap gadis itu menjiwai karakternya. Membuat para tamu undangan tertawa.
“Selamat menyaksikan…”
Sementara itu,
“Put…kamu masih marah ya tentang yang kemarin?”
“Ini giliran kita naik panggung loh…?”
Putra masih tetap diam. “Maafin aku soal yang kemarin ya,  makasih juga buat susu jahenya berkat kamu suara aku kembali normal…”
Maafin gue udah nolak elo kemarin Put,
“Husst Rani, Putra giliran kalian tampil kalian ngapain aja sih…ayo buruan…”
“Tunggu sebentar…” Jawab putra sekenanya.
Rani menghampiri putra, “Ayo tampil…” katanya.
Putra berjalan lebih dulu menuju panggung, Rani menyusulnya di belakang dengan perasaan sedikit bersalah. Ketika mereka tampil suara Rani menjadi false banyak nada yang terlewat, Putra memaikan gitar dengan buruk. Para tamu undangan tampak tidak menikmati, mereka lebih asik mengobrol satu sama lain. Rani nampak sedikit malu kemudian menaruh mike ke standing mike kemudian berlari menuju ke belakang panggung. Putra menyusulnya ke belakang.
Gadis yang memakai baju merah itu menangis sesegukan.
“Gue minta maaf…” Suara di belakang membuatnya berhenti menangis. “Maaf sering buat elo kesel. Dan untuk yang barusan. Maaf gue gak bersikap dewasa menyikapi elo nolak  gue kemarin…”
 “Lo emang orang yang sering bikin gue kesel Put. Gue kira loe bakal berubah. Loe emang ga dewasa…”
“Iya gue tau. Maaf udah bilang suka sama loe…”
“Lo tau semenjak kejadian yang kemaren gue udah berubah pikiran. Awalnya gue mau bilang gue juga suka sama loe. Tapi, ngeliat sikap loe tadi, gue berubah pikiran lagi…”
“Gue tau… gue minta maaf…” “Loe tu memang manusia aneh tau ga…”
“Gue boleh tau kenapa loe nolak gue kemaren?” Tanya Putra. Rani mereda dan menghapus air matanya.
“Lo itu patner kerja gue Put, ketua Osis di Sekolah. Dan gue ga mau status itu berubah. Gue masih belum pantas buat mendapatkan gelar ‘Pacar Ketua Osis’ biarkan dulu kita nyaman sebagai diri kita, gue ga mau lo berubah”
“Tapi apa masalahnya, kita masih bisa kok pacaran dengan ngejalanin beban organisasi kita sama-sama. Lagian pacaran atau enggak OSIS bakal tatap jalan…”
Rani tersenyum… “Itu lo tau, dan gue udah memilih…” Putra mengangguk pamah.

Ada berbagai macam penolakan yang bisa gue lakukan untuk lo, tapi selama cinta itu memang bener-bener suara perasaan yang berasal dari hati lo, gue bakal terima. Karena nyatanya gue juga suka sama lo. Tapi dengan satu sarat yaitu ga ada kata pisah. Tapi yang lain,  lo patner gue, gue gak mau cuma gara-gara rasa cinta yang tumbuh di antara kita membuat elo berubah menjadi pribadi lain yang gak gue kenali. Gue seneng dengan elo yang selalu bikin gue kesel, karena saat itu loe jadi pribadi lucu yang gue kenali sebagai ketua Osis gue yang konyol. Karena dekat gak harus selalu bersama.
Tadinya gue rasa dengan kita dekat dan memiliki lo gue bisa menjaga elo dengan sepenuh hati gue. Tapi apa yang bisa gue jaga? Apa yang bisa gue lakuin kalau nyatanya gue ga bisa miliki hati loe. Saat situasi berubah nanti, apakah gue boleh memperjuangkan elo lagi?
“Oke gapapa gue bisa terima…” Kata Putra akhirnya.
“Yang penting lo jangan nangis lagi…”
“Siapa yang nangis gue gak nangis kok…”
“Terus itu apa dipipi lo?...”
“Ini kelilipan, gimana sih lo masak ga tau…” rani meyeka air matanya. “Terserah lo aja deh…” merekapun tertawa.
“Rani…Putra…penampilan kalian belum selesai? Kok kalian main kabur aja sih?” Sania ternyata menyusul mereka kembali.
“Ayok kita perbaiki lagi penampilan kita…” Seru putra
Rani memaikan kepalanya dengan senyum khasnya. Yang berarti ayoo…
“Gue nolak bukan berarti ga suka ya put…” Gue setengah berbisik di belakang pria itu. “ Apa ran?”
“Oh enggak…buruan naik ketua Osis nyebelin. Jangan sampai ngerusak acara lagi…” katanya

Ooh, Ooh
Why you gotta hug me
Like that every time you see me?
Why you always making me laught
Swear you’re catching feeling
I Loved you from the start
So it break my heart

When you say I’m just a friend to you
Cause friend don’t do the things we do
Everybody knows you love me too
Tryna to be  careful with the words I use
I say it’s cause I’m dying to
I’m so much more than just a friend to you

A friend to you
A friend to you
A friend to you
 (Song Meghan Trainor – Just A Friend To You)


Komentar