Tema: “Metode Dakwah Ideal Menuju Islam Rahmatul Lil’alamin”
Generasi Melek Dakwah
Oleh: Rani Ayu Nelasari
Metode berasal dari Bahasa Yunani methods yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Metode berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan, atau bagaimana cara melakukan atau membuat sesuatu.
Jika kita membuka kembali lembaran-lembaran kisah dakwah kampus, kita akan menemukan definisi bahwa dakwah kampus sebagai dakwah ammah dan harokah zahirah dalam lingkup perguruan tinggi. Dakwah ammmah berarti dakwah secara umum , dalam arti tidak ada kekhususan dalam aspek-aspek tertentu. Harakah zhahirah berarti gerakan yang terbuka, gamlang dan terlihat.
Dalam sebuah hadist, Rasullulah bersabda, “Ajaklah mereka memeluk islam dan beritahu mereka apa-apa yang diwajibkan atas mereka yang berupa hak dan kewajiban atas mereka yang berupa hak Allah didalamnya. Di Allah, Allah akan member petunjuk kepada seseorang lantaran engkau, adalah lebih baik darimu daripada engkau memiliki unta merah.
Metode dakwah tentunya mengharapkan output yaitu tersampainnya pesan dakwah yang disampaikan dengan menghasilkan perubahan pada seseorang yang kita ajak. Dengan kata lain, dakwah merupakan kegitan megajak atau menyeru untuk beriman dan taat kepada Allah ta’ala sesuai garis akidah, syariat dan akhlak islam.
Lalu bagaimana mencarikan metode dakwah yang tepat untuk generasi milenial saat ini?. Generasi millennials atau yang dikenal juga dengan generasi Y adalah sekelompok orang yang lahir setelah generasi X, yaitu orang yang lahir pada kisaran tahun tahun 1980-2000an. Generasi millenials memiliki cirri khas tersendiri dimana mereka lahir saat televise sudah bewarna, jaringan internet dimana-mana, dan teknologi merambah dengan sempurna.
Dakwah di era yang sekarang ini bukanlah hal yang mudah, hal ini memang lebih sulit jika dibandingkan dengan dulu. Namun bukannya Allah telah berfirman “Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan”. Jadi bukan tidak mungkin karena kemajuan ilmu dan teknologi saat ini kita mengkambing hitamkan teknologi untuk berhenti berdakwah. Bukankah dakwah Rasul dan sahabat dulu lebih berat dari kita?.
Jadikan Media Sosial Sebagai Lahan untuk Berdakwah?
Mengapa kita tidak mencoba memanfaatkan teknologi untuk berdakwah? Contoh yang bisa kita lakukan kita bisa membuat konten-konten islam dalam bentuk pamphlet, poster yang dikemas dalam desain yang menarik perhatian anak-anak zaman sekarang sehingga metoda dakwah tersampaikan. Kita bisa menempel konte-konten tersebut dalam media mading bahkan kantin kampus bila perlu.
Ditengah merambahnya media sosial, entah itu Youtube, Instagram, Facebook, Twitter, Line, WhatsApp, dan lain sebagainnya mengapa kita tidak mencoba memanfaatkannya untuk melakukan dakwah melalui media tulisan , video, suara dan lainnya. Dakwah islam bersifat lembut yang berisi ajakan dalam kebaikan. Dengan menebar konten-konten positif. Ingat tidak menggurui tapi bersifat mengajak.
Liqo’ dan Mentoring Asik
Metode dakwah lain yang bisa lakukan adalah membentuk kelompok - kelompok. Dakwah bisa kita mulai dari sana dari teman terdekat kita. Melalu kelompok mentoring kita bisa berdiskusi nggak cuma ngaji. Metode ini dilakukan agar mentoring tidak terkesan kaku, saling bertukar pendapat agar terjadi komunikasi dua arah. Dikemas juga dengan mengadakan jalan-jalan, pelatihan-pelatihan, contohnya saja pelatihan merajut, bisnis, desain dll. Menciptakan metode dakwah yang asik seperti ini lebih tepat dilakukan, sehingga dengan begitu secara perlahan dakwah menyentuh hati objek dakwah untuk terus memperkuat dan mengenal islam sebagai agama perdamaian. Selanjutnya kita siap meluncurkan kader-kader baruuntuk sama-sama meroket diladang dakwah islamiyah baik dilingkungan kampus dan masyarakat.
Generasi Melek Dakwah
Oleh: Rani Ayu Nelasari
Metode berasal dari Bahasa Yunani methods yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Metode berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan, atau bagaimana cara melakukan atau membuat sesuatu.
Jika kita membuka kembali lembaran-lembaran kisah dakwah kampus, kita akan menemukan definisi bahwa dakwah kampus sebagai dakwah ammah dan harokah zahirah dalam lingkup perguruan tinggi. Dakwah ammmah berarti dakwah secara umum , dalam arti tidak ada kekhususan dalam aspek-aspek tertentu. Harakah zhahirah berarti gerakan yang terbuka, gamlang dan terlihat.
Dalam sebuah hadist, Rasullulah bersabda, “Ajaklah mereka memeluk islam dan beritahu mereka apa-apa yang diwajibkan atas mereka yang berupa hak dan kewajiban atas mereka yang berupa hak Allah didalamnya. Di Allah, Allah akan member petunjuk kepada seseorang lantaran engkau, adalah lebih baik darimu daripada engkau memiliki unta merah.
Metode dakwah tentunya mengharapkan output yaitu tersampainnya pesan dakwah yang disampaikan dengan menghasilkan perubahan pada seseorang yang kita ajak. Dengan kata lain, dakwah merupakan kegitan megajak atau menyeru untuk beriman dan taat kepada Allah ta’ala sesuai garis akidah, syariat dan akhlak islam.
Lalu bagaimana mencarikan metode dakwah yang tepat untuk generasi milenial saat ini?. Generasi millennials atau yang dikenal juga dengan generasi Y adalah sekelompok orang yang lahir setelah generasi X, yaitu orang yang lahir pada kisaran tahun tahun 1980-2000an. Generasi millenials memiliki cirri khas tersendiri dimana mereka lahir saat televise sudah bewarna, jaringan internet dimana-mana, dan teknologi merambah dengan sempurna.
Dakwah di era yang sekarang ini bukanlah hal yang mudah, hal ini memang lebih sulit jika dibandingkan dengan dulu. Namun bukannya Allah telah berfirman “Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan”. Jadi bukan tidak mungkin karena kemajuan ilmu dan teknologi saat ini kita mengkambing hitamkan teknologi untuk berhenti berdakwah. Bukankah dakwah Rasul dan sahabat dulu lebih berat dari kita?.
Jadikan Media Sosial Sebagai Lahan untuk Berdakwah?
Mengapa kita tidak mencoba memanfaatkan teknologi untuk berdakwah? Contoh yang bisa kita lakukan kita bisa membuat konten-konten islam dalam bentuk pamphlet, poster yang dikemas dalam desain yang menarik perhatian anak-anak zaman sekarang sehingga metoda dakwah tersampaikan. Kita bisa menempel konte-konten tersebut dalam media mading bahkan kantin kampus bila perlu.
Ditengah merambahnya media sosial, entah itu Youtube, Instagram, Facebook, Twitter, Line, WhatsApp, dan lain sebagainnya mengapa kita tidak mencoba memanfaatkannya untuk melakukan dakwah melalui media tulisan , video, suara dan lainnya. Dakwah islam bersifat lembut yang berisi ajakan dalam kebaikan. Dengan menebar konten-konten positif. Ingat tidak menggurui tapi bersifat mengajak.
Liqo’ dan Mentoring Asik
Metode dakwah lain yang bisa lakukan adalah membentuk kelompok - kelompok. Dakwah bisa kita mulai dari sana dari teman terdekat kita. Melalu kelompok mentoring kita bisa berdiskusi nggak cuma ngaji. Metode ini dilakukan agar mentoring tidak terkesan kaku, saling bertukar pendapat agar terjadi komunikasi dua arah. Dikemas juga dengan mengadakan jalan-jalan, pelatihan-pelatihan, contohnya saja pelatihan merajut, bisnis, desain dll. Menciptakan metode dakwah yang asik seperti ini lebih tepat dilakukan, sehingga dengan begitu secara perlahan dakwah menyentuh hati objek dakwah untuk terus memperkuat dan mengenal islam sebagai agama perdamaian. Selanjutnya kita siap meluncurkan kader-kader baruuntuk sama-sama meroket diladang dakwah islamiyah baik dilingkungan kampus dan masyarakat.
Komentar
Posting Komentar