Story Of My Hijrah
Aku itu orangnya jauh sebelum begini, aku pernah begitu. Sama seperti kebanyakan cewek rata-rata yang belum mengerti bahwa hidup dalam cahaya kasih-Nya sangatlah damai dan menyejukkan hati. Belum mengerti apa-apa. Kurang sekali dalam penjagaan diri, senangnya hanya heppy kesana kemari. Terkadang ibadah saja sering tertinggali. Tetapi setiap orang punya pilihan, mau jadi baik kah, atau tetap di posisi gitu-gitu aja. Sekarang pilihan ada di tangan mu. Tentukan pilihan mu dari sekarang.
Keberangkatan bus pagi itu sedikit terkendala, para penumpang sudah gerah di buatnya. Belum lagi matahari siang itu sangat panas menyengat. Aku dan Ayah adalah bagian dari penumpang bus yang malang itu, memilih menepi dari belasan penumpang lain yang mengumpat pada pemilik armada bus, lantaran mogok lagi mogok lagi.
“Sabar ya kak…”
“Yaaa… iya yah…”
“Sudah Adzan Dzuhur ayo kita sholat dulu…” Kata Ayah
“Ayo yah…”
Aisyah Rani. Itu namaku, panggil saja aku Aii. Teman-teman biasanya memanggilku begitu. Beberapa minggu lalu aku menerima pengumuman bahwa aku dinyatakan lulus di suatu perguruan tinggi di Padang.
“Aiiiiiiiiiii…selamat ya kamu lulus...” tiba-tiba saja Nadia datang berteriak antusias sambil memeluk ku.
“Haaa, apa? lulus apa nih aku lulus apa?” tanyaku terheran. Kamarku kini serasa berada di atmosfer yang berbeda.
“Ih kudet banget sih, coba liat portal kamu tuh…”
Perlahan aku meraih handphone ku dan mengecek portal pendaftaran jalur undanganku. Jaringan sedikit lelet malam ini.
“SELAMAT KAMU DINYATANKAN LO…LOS…huuaaaaaa Aiii lolos ayaahhhh” mataku membelalak tak percaya.
Nadia langsung menghubungi Ferdi Via Wa. “Pacar kamu lolos Fer…” Antusias Nadia.
“Aku lulus Ferr…” Kataku tak kalah antusias.
Saat itu rasanya sangat senang dan nggak mampu di ungkapkan dengan kata-kata. Walaupun sejatinya aku antara niat dan tak niat untuk berkuliah. Tapi aku sudah memikirkan untuk memakai celana jeans dan perlengkapan lainnya yang berhubungan dengan anak teknik. Ya, Aii lulus di Jurusan Teknik Sipil.
“Aii…” Ayah memudarkan lamunanku.”Iya yah…ada apa?” Tanyaku sembari memasang tali sepatu kets biru yang kukenakan. Boleh ayah check hp Aii?” Aku dengan sukarela menyerahkan hp ku pada ayah.
Lama sekali ayah memencet-mencet tombol handphone ku, seperti sedang ada yang diselidikinya. Tiba-tiba raut muka ayah menjadi sedih.
“Ayah rasa, ayah telah gagal mendidik kamu Aii…” lirih ayah sedikit kecewa.
Aku sedikit mengerjapkan mataku. Tiba-tiba ayah menangis, lalu menyerahkan handphone itu padaku. Sebaris pesan masuk ke handphone ku.
“Saya tidak akan menggangu Aii lagi om, saya janji”
Rupaya Ayah sudah lama curiga kalau aku berpacaran dengan Ferdi. Ayah sudah lama melarang aku untuk berpacaran. Tapi aku selalu saja mencari usaha diam-diam untuk bisa berpacaran dengan Ferdi.
“Maafkan aku ayah…” helaku menyesal. Ayah memelukku. Begitu pemurahnya hati ayah, sampai ayah menyalahkan dirinya karena telah salah mendidik dan kurang menjagaku.
Hari itu hujan gerimis, aku sudah sampai di muka gerbang kampus impianku. Tetapi bukannya senang aku malah memikirkan nasib hubunganku dan Ferdi, kami telah putus. Sedih sekali namun ayah nampaknya menyadari kemurungan wajahku, berdalih aku mengajaknya mengobrol tentang impianku saja, biar ayah tak curiga.
Gerbang dan tulisan kampus impian sebagian orang telah siap menyambutku sepertinya. Ayah terperangah, “Ini baik untukmu nak, ranah minang akan banyak memberi pengaruh untuk kebaikanmu. Ingat dirimu adalah tergantung dengan siapa engkau berteman. Jangan buat ayah kecewa lagi ya…” Ayah mencium keningku cukup lama. Saat itu aku merasa haru biru perpisahan aku dan ayah dimulai.
Aii memang sangat dekat dengan ayah, ayah Aii adalah ayah sekaligus ibu untuknya. Aii dibesarkan oleh ayah sejak umurnya baru menginjak lima tahun. Saat itu ibunya sedang sakit keras, biaya pengobatan membuat penyakit ibu Aii tidak tertangani dan akhirnya ibu Aii meninggal dunia. Sebelum meninggal ibu berpesan dengan Ayah untuk mendidik Aii dengan sebenarnya agar menjadi wanita yang solehah dan bisa mengenakan mahkota untuk Ayah dan Ibu di surga kelak. Beban di pundak itu kini semakin terasa berat di pikul Ayah. Kini dia melepas Aii pergi,
“Semoga saja kau mampu menjadi wanita yang baik ya, nak. Ayah sayang pada Aii, selalu ingat pesan Ayah ii” Aku menangis, seperti sebuah pukulan bagiku, karena sempat membuat ayah kecewa minggu lalu. “Sudah kau telpon uni mu, Aii?”
“Belum yah, sebentar…”
“Hallo kak, ini Aii sepupu kakak. Aii sudah di gerbang kak,”
“Oke dedek. Uni segera ke sana ya…” Jawab suara di ujung telfon. Tak lama sosok gadis berperawakan ceria datang menyambut Aii dan Ayah. “Assalamu’alaikum om. Ini Citra om. Maaf om terakhir ketemu di Palembang dua tahun lalu kan ya, maafkan kalau citra sedikit lupa dengan wajah om dan Aii…” Aii tersenyum, entah mau merespon apa, masalahnya ia juga lupa wajah uni Citranya itu.
“Wa’alaikumussalam…haha iya citra nggak masalah kok sama om. Om titip Aii ya. Jaga dia baik-baik…”
“Pasti om…”
“Ya sudah om pamit…Aii hati-hati di sini ya sama Uni Citra…”
Ayah Aiipun berlalu menggunakan angkot hijau. Tak selang beberapa lama, handphone Aii berbunyi. Ayah. “Hallo yah???”
“ Jaga diri baik-baik yaaa…”
“Hahaha…oke Ayah. Aii sayang ayah…”
Citra mengajak Aii makan di salah satu warung yang tak jauh dari lokasi wisma tempat Citra tinggal. “Oh jadi tempat tinggal kakak tadi namanya wisma ya kak? Emang apa bedanya sama kontrakan biasa? Emang tinggal bareng-bareng begitu gak ribet ya kak?”
“Wisma itu kontrakan yang luar biasa dek. Ya, sejatinya wisma itu memiliki program ya mana gunanya ya dari kita untuk kita. Maksudnya, di wisma itu semua kegiatan ibadah itu di kontrol, ada baca Al-matsurat bareng, sholat jama’ah, piket masak, ngaji bareng. Pokoknya kalau tinggal di wisma kamu ngerasa nggak hijrah sendiri, ada saudara kita yang siap ngingetin kalau kita sedang down imannya. Jadi insyaAllah deh ibadah kita terkontrol baik.”
“Kalau soal barang-barang yang sering kepake sama anggota wisma yang lain mah, yaaa hehe harap maklum aja. Hemm oh iya btw dedek ambil jurusan apa disini, lulus jalur undangan kan yaa?”
“Teknik Sipil kak…”
“Waw teknik…” “Eh kenapa tuh kak, kok kayak kaget gitu…”
“Katanya sih kalau di teknik itu berat…”
“Ah nggak juga kok kak. Kakak jurusan Agroekoteknologi kan kak?, dulu aku juga ambil itu loh sebagai pilihan kedua. Eh taunya aku lulus di Sipil…”
“Hemm, iya kalau lulus di sana pasti kita jadi lebih sering ketemu di jurusan…”
“Haha…iya tu kak, pasti kak bakal jadi senior aku…”
Banyak sekali perbincangan mereka. Sampai tujuh turunan juga ga bakalan selesai pembahasan.
“Aii…” Seru citra. “Iya un…”
“Eh, kamu lupa ya tadi. Panggil kakak aja ya, biar terkesan lebih akrab. Kamu kan adek kakak…”
“Oh iyaa, oke kak…”
“Besok kamu check-in asrama ya, sudah tau lokasi asrama dimana kan?”
“Belum kak..hehe..”
“Oke deh besok kakak antar aja kamu ya…”
“Beneran nih kak?”
“Iyaa beneran…”
Esok harinya Aii dan Citra berjalan menuju asrama yang lokasinya memang berada di sekitar kampus. Kontras penampilan mereka saat itu sangat terlihat. Citra mengenakan gamis berwarna krim dan jilbab merah jambu. Sedangkan Aii dengan Jeans dan jilbab minimalisnya.
“Registrasi di sana ya dek…” seru panitia pada Aii. “Baik kak…”
“Hemm adek..dek..”
“Eh iya kak”
“Antri dulu di belakang yaa…”
Bagus sekali masih menerapkan budaya antri, coba kalau disana, asal nyerobot aja, hemm bagus untuk dihargai. Pikir Aii
Aii terdiam memperhatikan sekitar. Cuma dia sepertinya yang kontras terlihat berbeda sekali.
“Selanjutnyaa…” Panitia menyuruh Aii untuk registrasi. “Adek siapa nama?”
“Aisyah Rani uni. Aii…”
“Sudah baca dan dikasih tau gak syarat Check-in apa?”
“Pakai rok uni…” Panitia yang bernama Nana itu tersenyum, “Nah iya, besok uni nggak mau lihat lagi ya adek uni pakai celana Jeans di lingkup asrama…”
Aii membanting tubuhnya ke kasur. Ribet banget ga sih, kalau harus pake rok kemana-mana? Suka-suka akulah mau pake jeans atau gimana.
“Ahh, kalau besok-besok aku harus pake rok ke kampus di sekitar asrama juga…mau aku kemanain ini celana jeans yang selusin???”
“Aii…”
“Kak Citra…”
“Kenapa?”
“Ini kak, harus ya kalau di lingkup asrama pakai rok. Aii gak punya rok sama sekali kak, ihh Aii kesel deh kak, mau masuk asrama aja susah banget…”
“Ya udah pinjam punya kakak aja yaa. Mungkin maksudnya baik juga kok buat adek…”
“Hemm oke kak…”
“Eh, tapi besok kan harus pake rok terus menerus kak, masak iya Aii pinjam punya kakak terus…”
“Ya sudah besok kakak temeni Aii buat beli rok ya…”
Bye…Bye celana jeans. Aku rasa aku akan merindukannmu. Selamat datang rok hitam yang manis, teman di sepanjang hariku.
Seorang gadis tampaknya sedang terburu buru berlalu melewati Aii dan merekapun bertabrakkan. “Oh ya Allah, Astagfirullahaladzim maafkan aku ukhti…”
“Ukhti, jangan panggil ukhti aku Aii… harusnya aku yang minta maaf karena jalan menunduk dan gak merhatiin kamu yang sedang buru-buru…” Mereka berdua mengobrol sambil membereskan kertas-kertas yang berserakkan. Fatimah mengajaknya duduk di bangku taman yang lokasinya tak berjauhan dari tempat mereka bertabrakkan. “Sebenarnya aku nggak sedang buru-buru, tapi memang langkah jalanku yang begitu …. Seeett…seetttt aku cepat…” gadis bercadar itu tertawa. “Oh…iyaa hahaha...”
“Kalau aku memang suka main hp sambil jalan gitu, kamu bukan orang pertama yang aku tabrak hari ini, tapi orang kesepuluh…” Aii tertawa geli menceritakan kebiasaan buruknya yang memang sampai sekarang tak bisa ia hentikan.
“Eh…eh tunggu deh rambut kamu kelihatan, bentar aku benerin…”
"Makasih..."
“Nah sudah, jangan sampai satu helai itu membuat ayahmu memasuki neraka karenanya…”
“Satu helai rambut inii? Ya nggak mungkin lah…” Aii tertawa. “Aku serius ukhti” kata Fatimah.
“Eh…eh bentar-bentar.”
Handphone Aii berbunyi. Ferdi menelpon Aii lagi. Ya ampun, lelaki ini sudah lama ia lupakan, mengapa sekarang Ferdi menghubunginya lagi?.
“Hemm Fatimah…” Aii sedikit ragu.
“Kamu kan pakai cadar, gimana bisa aku tau itu kamu kalau kita ketemu lagi nanti?”
“Oh oke tunggu…” gadis itu membuka penutup cadarnya untuk sekian detik.
“Oh ya, aku akan ingat dari lentiknyaa alis matamu, Fatimah…senang bertemu denganmu…”
“Aku ada kenang-kenangan untukmu. Ini…semoga apa yang jadi impian ayahmu terwujud saudariku. Aku yakin kamu bisa…” Sebuah buku tentang motivasi hijrah.
“Haha, aku nggak tertarik tentang itu Fatimah…terima kasih…”
“Bawa saja dulu, terserah dirimu Aii, mau atau tidaknya kau membacanya tak apa, semoga Allah selalu merahmatimu saudariku Aii…” Ragu Aii meraih buku itu.
Aii berjalan menuju pusat kota, menemui Ferdi. “Ferdiii…” Aii berlari dan meraih kedua tangan Ferdi, namun dengan sigap Ferdi mengatupkan kedua tanggannya. “Maaf Aii…” Aii memincingkan matanya. Menggurungkan niatnya, ragu untuk berbicara lagi. Penampilan Ferdi kali ini berbeda,
Diam adalah bahasa
Bahasa yang hanya dipahami oleh hati
Dimengerti oleh diri sendiri
Juga Allah yang maha memiliki hati
Diamku bukan berarti telah redam rasa di hati
Lihat saja tingkah semesta
Cara langit mencintai bumi
Mentari dengan rerumput pagi
Juga hujan yang hadirnya selalu dirindu
Mereka semua diam, namun tingkahnya memakna dalam
Lalu aku juga ingin menjaga cinta ini dalam diam
Yang indah saat heningnya
Tenang dalam sepinya
Dan mesra saat nama panjangmu satu demi satu ku eja dalam doa ku
“Ferdi, kamu kok beda banget sekarang sudah kelihatan kayak cowok-cowok muslim begitu loh…eh ngomong-ngomong kamu kok di Padang sih…”
“Aii, aku mungkin ga akan cerita banyak sama kamu. Perpisahan yang kemarin itu sangat membebani pikiranku. Sekarang aku ingin kita pisah baik-baik. Aku sedang memperjuangkan diri menjadi pria baik-baik bagi seseorang yang akan Allah jodohkan padakku. Sebaiknya kau juga bersegera.”
“Iniii untukmu…”
Aii terkejut melihat buku yang Ferdi beri. Itu buku yang pernah di berikan Fatimah padanya beberapa tahun lalu.
“Ini kan bukuuu…”
“Ya buku yang pernah kamu buang ke tong sampah Aii, aku mengutipnya, buku ini banyak merubahku… sekarang ini untukmu."
“Selamat tinggal Aii, aku pergi dulu. Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,…”
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh..." Aii menatapnya nanar.
Angin berhembus lembut sore itu. Aii termanggu, hapenya sudah bergetar beberapa kali, telpon dari Ayah.Aii hanya diam tak bersuara, hanya suara handphone yang terus bergetar terdengar di keheningan saat itu. Sudah tiga tahun terlampaui, sudah tiga tahun juga keinginan ayah belum terwujud. Aii merasa dia telah gagal memenuhi keinginan Ayah. Mengapa Aii tidak bisa seperti mereka. Mengapa Aii, nggak bisa seperti Aisyah, mengapa Aii nggak bisa seperti khadijah. Mengapa Aii tak bisa seperti Fatimah?. Satuhal apakah Aii akan terus begini-begini saja. Hanya Aii yang tau jawabannya.
Beberapa tahun kemudian Aii telah membuktikannya, lewat proses hijrahnya yang sangat berat Aii berhasil mengalahkan dirinya. Kini Aii telah berubah menjadi muslimah sejati yang menginspirasi banyak orang di luar sana. Bahkan dia menjadi salah satu penulis best seller sebuah buku yang menceritakan kisah hijrahya. Hari-harinya selalu diisi sebagai pengisi materi seminar kemuslimah di berbagai kampus di Indonesia. Aii senang menjalani hari-harinya yang sekarang. Seperti cita-citanya dahulu ingin menjadi anak yang baik bagi ayah.
Suatu ketika ada seorang laki-laki yang menghampirinya dengan sebuah buku hasil karya Aii,
"Boleh aku meminta tanda tangan mu..."
Aii mengangkat kepalanya,
"Astagfirullah... Kamu..."
Seseorang yang tepat akan datang pada waktu yang tepat. Seorang yang baik akan digariskan tuhan ada orang yang baik pula. Jangan pernah berhenti belajar. Jangan lelah melalui proses. Cintai apa yang kau sukai. Jadikan hari-harimu adalah hari berbenah setiap hari. Setiap orang berhak untuk berubah. Jadikan mereka alasan untuk mu terus lebih baik, dan jadikan hijrahmu itu lillahi ta'ala.
NB: Hay, sahabatku muslimah, apapun kondisinya tetaplah istiqomah. Jangan pernah bosan untuk taat. Karena Engkau adalah sebaik-baiknya muslimah yang akan membangun peradaban dunia nantinya. Jangan pernah bosan berbeah ya ukhti.
Aku itu orangnya jauh sebelum begini, aku pernah begitu. Sama seperti kebanyakan cewek rata-rata yang belum mengerti bahwa hidup dalam cahaya kasih-Nya sangatlah damai dan menyejukkan hati. Belum mengerti apa-apa. Kurang sekali dalam penjagaan diri, senangnya hanya heppy kesana kemari. Terkadang ibadah saja sering tertinggali. Tetapi setiap orang punya pilihan, mau jadi baik kah, atau tetap di posisi gitu-gitu aja. Sekarang pilihan ada di tangan mu. Tentukan pilihan mu dari sekarang.
Keberangkatan bus pagi itu sedikit terkendala, para penumpang sudah gerah di buatnya. Belum lagi matahari siang itu sangat panas menyengat. Aku dan Ayah adalah bagian dari penumpang bus yang malang itu, memilih menepi dari belasan penumpang lain yang mengumpat pada pemilik armada bus, lantaran mogok lagi mogok lagi.
“Sabar ya kak…”
“Yaaa… iya yah…”
“Sudah Adzan Dzuhur ayo kita sholat dulu…” Kata Ayah
“Ayo yah…”
Aisyah Rani. Itu namaku, panggil saja aku Aii. Teman-teman biasanya memanggilku begitu. Beberapa minggu lalu aku menerima pengumuman bahwa aku dinyatakan lulus di suatu perguruan tinggi di Padang.
“Aiiiiiiiiiii…selamat ya kamu lulus...” tiba-tiba saja Nadia datang berteriak antusias sambil memeluk ku.
“Haaa, apa? lulus apa nih aku lulus apa?” tanyaku terheran. Kamarku kini serasa berada di atmosfer yang berbeda.
“Ih kudet banget sih, coba liat portal kamu tuh…”
Perlahan aku meraih handphone ku dan mengecek portal pendaftaran jalur undanganku. Jaringan sedikit lelet malam ini.
“SELAMAT KAMU DINYATANKAN LO…LOS…huuaaaaaa Aiii lolos ayaahhhh” mataku membelalak tak percaya.
Nadia langsung menghubungi Ferdi Via Wa. “Pacar kamu lolos Fer…” Antusias Nadia.
“Aku lulus Ferr…” Kataku tak kalah antusias.
Saat itu rasanya sangat senang dan nggak mampu di ungkapkan dengan kata-kata. Walaupun sejatinya aku antara niat dan tak niat untuk berkuliah. Tapi aku sudah memikirkan untuk memakai celana jeans dan perlengkapan lainnya yang berhubungan dengan anak teknik. Ya, Aii lulus di Jurusan Teknik Sipil.
“Aii…” Ayah memudarkan lamunanku.”Iya yah…ada apa?” Tanyaku sembari memasang tali sepatu kets biru yang kukenakan. Boleh ayah check hp Aii?” Aku dengan sukarela menyerahkan hp ku pada ayah.
Lama sekali ayah memencet-mencet tombol handphone ku, seperti sedang ada yang diselidikinya. Tiba-tiba raut muka ayah menjadi sedih.
“Ayah rasa, ayah telah gagal mendidik kamu Aii…” lirih ayah sedikit kecewa.
Aku sedikit mengerjapkan mataku. Tiba-tiba ayah menangis, lalu menyerahkan handphone itu padaku. Sebaris pesan masuk ke handphone ku.
“Saya tidak akan menggangu Aii lagi om, saya janji”
Rupaya Ayah sudah lama curiga kalau aku berpacaran dengan Ferdi. Ayah sudah lama melarang aku untuk berpacaran. Tapi aku selalu saja mencari usaha diam-diam untuk bisa berpacaran dengan Ferdi.
“Maafkan aku ayah…” helaku menyesal. Ayah memelukku. Begitu pemurahnya hati ayah, sampai ayah menyalahkan dirinya karena telah salah mendidik dan kurang menjagaku.
Hari itu hujan gerimis, aku sudah sampai di muka gerbang kampus impianku. Tetapi bukannya senang aku malah memikirkan nasib hubunganku dan Ferdi, kami telah putus. Sedih sekali namun ayah nampaknya menyadari kemurungan wajahku, berdalih aku mengajaknya mengobrol tentang impianku saja, biar ayah tak curiga.
Gerbang dan tulisan kampus impian sebagian orang telah siap menyambutku sepertinya. Ayah terperangah, “Ini baik untukmu nak, ranah minang akan banyak memberi pengaruh untuk kebaikanmu. Ingat dirimu adalah tergantung dengan siapa engkau berteman. Jangan buat ayah kecewa lagi ya…” Ayah mencium keningku cukup lama. Saat itu aku merasa haru biru perpisahan aku dan ayah dimulai.
Aii memang sangat dekat dengan ayah, ayah Aii adalah ayah sekaligus ibu untuknya. Aii dibesarkan oleh ayah sejak umurnya baru menginjak lima tahun. Saat itu ibunya sedang sakit keras, biaya pengobatan membuat penyakit ibu Aii tidak tertangani dan akhirnya ibu Aii meninggal dunia. Sebelum meninggal ibu berpesan dengan Ayah untuk mendidik Aii dengan sebenarnya agar menjadi wanita yang solehah dan bisa mengenakan mahkota untuk Ayah dan Ibu di surga kelak. Beban di pundak itu kini semakin terasa berat di pikul Ayah. Kini dia melepas Aii pergi,
“Semoga saja kau mampu menjadi wanita yang baik ya, nak. Ayah sayang pada Aii, selalu ingat pesan Ayah ii” Aku menangis, seperti sebuah pukulan bagiku, karena sempat membuat ayah kecewa minggu lalu. “Sudah kau telpon uni mu, Aii?”
“Belum yah, sebentar…”
“Hallo kak, ini Aii sepupu kakak. Aii sudah di gerbang kak,”
“Oke dedek. Uni segera ke sana ya…” Jawab suara di ujung telfon. Tak lama sosok gadis berperawakan ceria datang menyambut Aii dan Ayah. “Assalamu’alaikum om. Ini Citra om. Maaf om terakhir ketemu di Palembang dua tahun lalu kan ya, maafkan kalau citra sedikit lupa dengan wajah om dan Aii…” Aii tersenyum, entah mau merespon apa, masalahnya ia juga lupa wajah uni Citranya itu.
“Wa’alaikumussalam…haha iya citra nggak masalah kok sama om. Om titip Aii ya. Jaga dia baik-baik…”
“Pasti om…”
“Ya sudah om pamit…Aii hati-hati di sini ya sama Uni Citra…”
Ayah Aiipun berlalu menggunakan angkot hijau. Tak selang beberapa lama, handphone Aii berbunyi. Ayah. “Hallo yah???”
“ Jaga diri baik-baik yaaa…”
“Hahaha…oke Ayah. Aii sayang ayah…”
Citra mengajak Aii makan di salah satu warung yang tak jauh dari lokasi wisma tempat Citra tinggal. “Oh jadi tempat tinggal kakak tadi namanya wisma ya kak? Emang apa bedanya sama kontrakan biasa? Emang tinggal bareng-bareng begitu gak ribet ya kak?”
“Wisma itu kontrakan yang luar biasa dek. Ya, sejatinya wisma itu memiliki program ya mana gunanya ya dari kita untuk kita. Maksudnya, di wisma itu semua kegiatan ibadah itu di kontrol, ada baca Al-matsurat bareng, sholat jama’ah, piket masak, ngaji bareng. Pokoknya kalau tinggal di wisma kamu ngerasa nggak hijrah sendiri, ada saudara kita yang siap ngingetin kalau kita sedang down imannya. Jadi insyaAllah deh ibadah kita terkontrol baik.”
“Kalau soal barang-barang yang sering kepake sama anggota wisma yang lain mah, yaaa hehe harap maklum aja. Hemm oh iya btw dedek ambil jurusan apa disini, lulus jalur undangan kan yaa?”
“Teknik Sipil kak…”
“Waw teknik…” “Eh kenapa tuh kak, kok kayak kaget gitu…”
“Katanya sih kalau di teknik itu berat…”
“Ah nggak juga kok kak. Kakak jurusan Agroekoteknologi kan kak?, dulu aku juga ambil itu loh sebagai pilihan kedua. Eh taunya aku lulus di Sipil…”
“Hemm, iya kalau lulus di sana pasti kita jadi lebih sering ketemu di jurusan…”
“Haha…iya tu kak, pasti kak bakal jadi senior aku…”
Banyak sekali perbincangan mereka. Sampai tujuh turunan juga ga bakalan selesai pembahasan.
“Aii…” Seru citra. “Iya un…”
“Eh, kamu lupa ya tadi. Panggil kakak aja ya, biar terkesan lebih akrab. Kamu kan adek kakak…”
“Oh iyaa, oke kak…”
“Besok kamu check-in asrama ya, sudah tau lokasi asrama dimana kan?”
“Belum kak..hehe..”
“Oke deh besok kakak antar aja kamu ya…”
“Beneran nih kak?”
“Iyaa beneran…”
Esok harinya Aii dan Citra berjalan menuju asrama yang lokasinya memang berada di sekitar kampus. Kontras penampilan mereka saat itu sangat terlihat. Citra mengenakan gamis berwarna krim dan jilbab merah jambu. Sedangkan Aii dengan Jeans dan jilbab minimalisnya.
“Registrasi di sana ya dek…” seru panitia pada Aii. “Baik kak…”
“Hemm adek..dek..”
“Eh iya kak”
“Antri dulu di belakang yaa…”
Bagus sekali masih menerapkan budaya antri, coba kalau disana, asal nyerobot aja, hemm bagus untuk dihargai. Pikir Aii
Aii terdiam memperhatikan sekitar. Cuma dia sepertinya yang kontras terlihat berbeda sekali.
“Selanjutnyaa…” Panitia menyuruh Aii untuk registrasi. “Adek siapa nama?”
“Aisyah Rani uni. Aii…”
“Sudah baca dan dikasih tau gak syarat Check-in apa?”
“Pakai rok uni…” Panitia yang bernama Nana itu tersenyum, “Nah iya, besok uni nggak mau lihat lagi ya adek uni pakai celana Jeans di lingkup asrama…”
Aii membanting tubuhnya ke kasur. Ribet banget ga sih, kalau harus pake rok kemana-mana? Suka-suka akulah mau pake jeans atau gimana.
“Ahh, kalau besok-besok aku harus pake rok ke kampus di sekitar asrama juga…mau aku kemanain ini celana jeans yang selusin???”
“Aii…”
“Kak Citra…”
“Kenapa?”
“Ini kak, harus ya kalau di lingkup asrama pakai rok. Aii gak punya rok sama sekali kak, ihh Aii kesel deh kak, mau masuk asrama aja susah banget…”
“Ya udah pinjam punya kakak aja yaa. Mungkin maksudnya baik juga kok buat adek…”
“Hemm oke kak…”
“Eh, tapi besok kan harus pake rok terus menerus kak, masak iya Aii pinjam punya kakak terus…”
“Ya sudah besok kakak temeni Aii buat beli rok ya…”
Bye…Bye celana jeans. Aku rasa aku akan merindukannmu. Selamat datang rok hitam yang manis, teman di sepanjang hariku.
Seorang gadis tampaknya sedang terburu buru berlalu melewati Aii dan merekapun bertabrakkan. “Oh ya Allah, Astagfirullahaladzim maafkan aku ukhti…”
“Ukhti, jangan panggil ukhti aku Aii… harusnya aku yang minta maaf karena jalan menunduk dan gak merhatiin kamu yang sedang buru-buru…” Mereka berdua mengobrol sambil membereskan kertas-kertas yang berserakkan. Fatimah mengajaknya duduk di bangku taman yang lokasinya tak berjauhan dari tempat mereka bertabrakkan. “Sebenarnya aku nggak sedang buru-buru, tapi memang langkah jalanku yang begitu …. Seeett…seetttt aku cepat…” gadis bercadar itu tertawa. “Oh…iyaa hahaha...”
“Kalau aku memang suka main hp sambil jalan gitu, kamu bukan orang pertama yang aku tabrak hari ini, tapi orang kesepuluh…” Aii tertawa geli menceritakan kebiasaan buruknya yang memang sampai sekarang tak bisa ia hentikan.
“Eh…eh tunggu deh rambut kamu kelihatan, bentar aku benerin…”
"Makasih..."
“Nah sudah, jangan sampai satu helai itu membuat ayahmu memasuki neraka karenanya…”
“Satu helai rambut inii? Ya nggak mungkin lah…” Aii tertawa. “Aku serius ukhti” kata Fatimah.
“Eh…eh bentar-bentar.”
Handphone Aii berbunyi. Ferdi menelpon Aii lagi. Ya ampun, lelaki ini sudah lama ia lupakan, mengapa sekarang Ferdi menghubunginya lagi?.
“Hemm Fatimah…” Aii sedikit ragu.
“Kamu kan pakai cadar, gimana bisa aku tau itu kamu kalau kita ketemu lagi nanti?”
“Oh oke tunggu…” gadis itu membuka penutup cadarnya untuk sekian detik.
“Oh ya, aku akan ingat dari lentiknyaa alis matamu, Fatimah…senang bertemu denganmu…”
“Aku ada kenang-kenangan untukmu. Ini…semoga apa yang jadi impian ayahmu terwujud saudariku. Aku yakin kamu bisa…” Sebuah buku tentang motivasi hijrah.
“Haha, aku nggak tertarik tentang itu Fatimah…terima kasih…”
“Bawa saja dulu, terserah dirimu Aii, mau atau tidaknya kau membacanya tak apa, semoga Allah selalu merahmatimu saudariku Aii…” Ragu Aii meraih buku itu.
Aii berjalan menuju pusat kota, menemui Ferdi. “Ferdiii…” Aii berlari dan meraih kedua tangan Ferdi, namun dengan sigap Ferdi mengatupkan kedua tanggannya. “Maaf Aii…” Aii memincingkan matanya. Menggurungkan niatnya, ragu untuk berbicara lagi. Penampilan Ferdi kali ini berbeda,
Diam adalah bahasa
Bahasa yang hanya dipahami oleh hati
Dimengerti oleh diri sendiri
Juga Allah yang maha memiliki hati
Diamku bukan berarti telah redam rasa di hati
Lihat saja tingkah semesta
Cara langit mencintai bumi
Mentari dengan rerumput pagi
Juga hujan yang hadirnya selalu dirindu
Mereka semua diam, namun tingkahnya memakna dalam
Lalu aku juga ingin menjaga cinta ini dalam diam
Yang indah saat heningnya
Tenang dalam sepinya
Dan mesra saat nama panjangmu satu demi satu ku eja dalam doa ku
“Ferdi, kamu kok beda banget sekarang sudah kelihatan kayak cowok-cowok muslim begitu loh…eh ngomong-ngomong kamu kok di Padang sih…”
“Aii, aku mungkin ga akan cerita banyak sama kamu. Perpisahan yang kemarin itu sangat membebani pikiranku. Sekarang aku ingin kita pisah baik-baik. Aku sedang memperjuangkan diri menjadi pria baik-baik bagi seseorang yang akan Allah jodohkan padakku. Sebaiknya kau juga bersegera.”
“Iniii untukmu…”
Aii terkejut melihat buku yang Ferdi beri. Itu buku yang pernah di berikan Fatimah padanya beberapa tahun lalu.
“Ini kan bukuuu…”
“Ya buku yang pernah kamu buang ke tong sampah Aii, aku mengutipnya, buku ini banyak merubahku… sekarang ini untukmu."
“Selamat tinggal Aii, aku pergi dulu. Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,…”
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh..." Aii menatapnya nanar.
Angin berhembus lembut sore itu. Aii termanggu, hapenya sudah bergetar beberapa kali, telpon dari Ayah.Aii hanya diam tak bersuara, hanya suara handphone yang terus bergetar terdengar di keheningan saat itu. Sudah tiga tahun terlampaui, sudah tiga tahun juga keinginan ayah belum terwujud. Aii merasa dia telah gagal memenuhi keinginan Ayah. Mengapa Aii tidak bisa seperti mereka. Mengapa Aii, nggak bisa seperti Aisyah, mengapa Aii nggak bisa seperti khadijah. Mengapa Aii tak bisa seperti Fatimah?. Satuhal apakah Aii akan terus begini-begini saja. Hanya Aii yang tau jawabannya.
Beberapa tahun kemudian Aii telah membuktikannya, lewat proses hijrahnya yang sangat berat Aii berhasil mengalahkan dirinya. Kini Aii telah berubah menjadi muslimah sejati yang menginspirasi banyak orang di luar sana. Bahkan dia menjadi salah satu penulis best seller sebuah buku yang menceritakan kisah hijrahya. Hari-harinya selalu diisi sebagai pengisi materi seminar kemuslimah di berbagai kampus di Indonesia. Aii senang menjalani hari-harinya yang sekarang. Seperti cita-citanya dahulu ingin menjadi anak yang baik bagi ayah.
Suatu ketika ada seorang laki-laki yang menghampirinya dengan sebuah buku hasil karya Aii,
"Boleh aku meminta tanda tangan mu..."
Aii mengangkat kepalanya,
"Astagfirullah... Kamu..."
Seseorang yang tepat akan datang pada waktu yang tepat. Seorang yang baik akan digariskan tuhan ada orang yang baik pula. Jangan pernah berhenti belajar. Jangan lelah melalui proses. Cintai apa yang kau sukai. Jadikan hari-harimu adalah hari berbenah setiap hari. Setiap orang berhak untuk berubah. Jadikan mereka alasan untuk mu terus lebih baik, dan jadikan hijrahmu itu lillahi ta'ala.
NB: Hay, sahabatku muslimah, apapun kondisinya tetaplah istiqomah. Jangan pernah bosan untuk taat. Karena Engkau adalah sebaik-baiknya muslimah yang akan membangun peradaban dunia nantinya. Jangan pernah bosan berbeah ya ukhti.
Komentar
Posting Komentar