Ya kisah ini adalah kisah kita, aku dan kamu. Setidaknya kita harus berani bermimpi, untuk mewujudkan cerita ini menjadi nyata.



Hari itu 2013, aku baru dinyatakan lulus dari salah satu SMA di sebuah desa kecilku, bernama Sumbusari. Lewat E-mail yang kamu kirim dari kota, kamu kemudian menanyakan padaku apakah aku akan melanjutkan kuliahku kesana? Kamu tahu saking bingungnya aku ingin bilang apa padamu aku hanya membalas pesanmu dengan emoticon senyum yang sering kugunakan saat aku tak ingin orang lain kecewa dengan keputusanku. Kamu kemudian menelponku dan tak menerima jawaban dariku.

Aku tau apa yang terbaik untuk kita, dan kurasa dirimu akan baik-baik saja.

Begitu isi E-mailku kepadanya. Sudah seminggu sejak E-mail itu terkirim. Tidak ada lagi balasan pesan darimu. Akupun memilih memfokuskan diri membantu ibu berjualan di pasar.

“Tempenya berapa satu bungkus nak , Ayu?” Saat itu ada pembeli tempe yang menanyakan harga tempe jualan ibuku. Ibu sedang tidak ada, ia sakit sudah dua hari yang lalu. Sudah dua hari aku menggantikannya.

“Eh buk Citra. Harganya sebungkus tiga ribu aja buk…”

“Oh begitu, ibu  beli lima bungkus ya…”

“Ayu kok masih disini bukannya kamu sudah harus registrasi ke Universitas kamu nak,”

“Hmmm, ibu masih sakit bu, ga bisa Ayu tinggal…”

Dalam hati saat itu rasanya aku ingin menangis dan memeluk bu Citra Wakil Kesiswaan yang telah banyak jasanya membantuku untuk mengetuk gerbang Universitas yang katanya sulit di tembus oleh anak-anak Desa sepertiku. Alhamduliilah aku berhasil lolos disana. Sebenarnya bukan ibu yang menjadi alasanku. Terlebih karena faktor ekonomi keluargaku.

“Ini bu tempenya...,” Ucapku menyerahkan sekantung pelastik berisikan tempe kepada bu Citra.

 “Ya sudah nak ya, ibu pulang dulu. Habis ini ibu ada jam di sekolah.” Ucapnya.

“Kalau ada kesuliatan ngurus kesana bilang ibu ya nak ya. Jangan sungkan juga main ke sekolah kalau mau pergi nanti ya…”

Sepulang dari pasar aku lihat ibu masih tertidur di pembaringanya. Aku teringat pembicaraan ami semalam.

“Kalau Ayu mau kuliah ibu ga masalah. Kamu anak yang pintar kalau kamu kuliah InsyaAllah kamu bisa merubah keadaan kita nak, tapi…” Ibu terdiam kerut di di bibirnya semakin jelas, dan sebulir air keluar dari pelupuk matanya membasahi lenganku yang kini mengusap wajah bayanya. Usianya kini sudah menginjak kepala lima. Sudah tidak mempunyai suami lagi. Ayah sudah meninggal sejak usiaku mulai memasuki sekolah dasar.  Ber-anakan aku dan Bang Rino yang kini sudah beristri di Kota. Jarang sekali menjenguk ibu kesini, karena kondisinya yang juga tidak jauh berbeda dari kondisi  kami, dia seorang buruh di Ibu kota. Pergi pagi, pulang pagi.

Minggu lalu aku menelponya dan menyatakan bahwa aku lolos di UI, dia senang akhirnya roda kehidupan akan mulai bergerak bila aku bisa berkuliah. Dia bilang dia akan rajin kerja demi membiayai kuliahku nanti di sana, aku boleh tinggal dirumahnya yang memang tidak bergitu jauh dari lokasi kuliahku. Juga dengan begitu aku bisa mengasuh ketiga anaknya yang masih kecil selagi istrinya bekerja.  Cerita di telpon saat itu panjang sekali, namun aku mengubur harapan itu dalam-dalam. Aku memutuskan untuk tidak menerima Undangan perguruan tinggi itu. Dia kecewa, sudah kutebak dari awal.

“Kenapa nak?” Tanya buk Citra. “Kalau soal biaya kamu ga usah khawatir Ayu. Biar ibu usahakan untuk mencarikan beasiswa untuk  kamu ya…”

“Kamu bisa berangkat ke Jakarta kok…”

“Ga papa buk, lagian dengan begitu saya jadi punya waktu buat ngurusin ibu saya buk yang sendiri di rumah.” Jelasku sewaktu di ruang kesiswaan.

            “Nggak, enggak. Kamu harus kuliah. Biar ibu bantu kamu ya. Soal ibu kamu nggak usah khawatir. Ayu sudah ibu anggap sebagai anak ibu sendiri. Begitupun ibu kamu sudah seperti kakak ibu sendiri nak. Ayu harus kuliah.”

“Yang penting sekarang kamu perbanyak doa saja ya nak yaa…”

Hari itu gerbang kemustahilan akan segera terbuka. Aku menjadi pemburu beasiswa. Segala berkas yang diperlukan kupersiapkan degan baik. Bolak balik kantor lurah dan kepala sekolah. Bu Citra sudah membakar semangatku.

E-mail Notificationku berbunyi kembali.

“Saat kita mulai menyerah disitulah kita bisa mulai mengatur jeda. Bukan ingin menyerah, tapi memastikan diri kembali kita pasti bisa.”

***

Hari itu semenjak sudah lamanya kamu tidak mengirim pesan akhirnya kamu mengirimnya padaku.

“Senang mendengar kamu kemabali. Maaf soal hari itu selamat datang.”

Saat itu aku sedang mengurus ketiga keponakanku. Ibunya sedang bekerja di rumah tetangga menjadi seorang buruh cuci baju setiap harinya. Hari ini ketiga keponakanku beruntung dapat bertemu dengan ku bibinya sejak mereka lahir aku hanya bisa melihat wajahnya dari foto yang dikirim lewat E-mail dari bang Rino.

E-mail itu sudah berniat ku balas pesannya, tapi sedetik kemudian aku menghentikannya. Jam dinding sudah menunjukkan waktu ashar. Ketiga keponakan ku sudah tidur. Aku bisa sholat dan mengerjakan  tugas kuliahku yang mulai menumpuk sekarang.

“Assalamu’alaikum ibu? Ibu sehat-sehat aja disana buk?”

“Alhamdulillah ibu sehat. Gimana keadaan ayu disana? Kuliah yang rajin ya? Gimana keadaan abangmu? Gimana cucu-cucu ibu nak? Ganteng dan cantik ya? Ibu jadi pengen kesana juga. Entah kapan ibu bisa melihat cucu-cucu ibu”

Uhuk…Uhuk…Uhuk…Aku dengar ibu sedikit terbatuk. “Ibu masih sakit? Sudah minum obat?” Aku mulai khawair.

“Ibu sudah sembuh, ga perlu dipikirkan. Gimana dengan ponakan mu” katanya. Sepertinya ibu tak ingin membahas tentang sakitnya lagi.

“Mereka cantik-cantik dan ganteng buk. Sama kayak kak Intan dan bang Rino, mirip sekali bu.”

Hari itu sepertiya ibu berbohong. Ibu masih sakit, aku tau. Diam-diam aku menelpon bu Citra menanyakan kabar ibu.

“Jangan khawatir, ada ibu. Ibu yang bakal merawat ibu mu di sini Ayu. Kamu fokuskan diri mengejar Impiamu ya sayang. Semangat selalu. Jangan pernah berhenti, jangan menyerah”

Seminggu ini E-mailku sibuk menerima pesan dari nya. Setiap satu jam E-mail tak berhentian datang bergiliran. Aku memilih mengacuhkannya. Membuka E-mail yang penting-penting saja.

Maaf, saldo Anda tidak cukup untuk melakukan transaksi ini…

Pesan di layar ATM itu terus membayang di kaca silinder ku. Hufff sepertinya aku harus mengikat pinggang minggu ini. Belakangan aku menjadi seorang pemboros karena terlalu sering mem-print tugas laporan di luar. Aku tidak mungkin merepotkan bang Rino untuk masalah uang. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga saja susah apa lagi untuk memenuhi kehidupanku.

Lampu ruang tengah hidup mati, hidup mati. Ketiga ponakan kecilku sudah terlelap diasuh oleh ibunya akhirnya aku bisa tenang mengerjakan laporan. Lingkaran merah di kalender menunjukkan bahwa sebulan lagi hari raya Idul fitri tiba, aku menyesal tak menyiapkan uang tastis untuk jaga-jaga sewaktu ingin pulang ke desa bertemu ibu. Tapi aku janji kalau lamaranku di toko itu masuk, cukup tidak cukup gaji pertamaku akan ku kasih ibu ketika aku pulang.

Aku tersentak dan terjaga. Sepertinya aku ketiduran dengan posisi memeluk laporan seniorku. Ya Allah, laporan ini harus dikumpul nanti pagi. Ya ampun, matilah aku. Pukul dua dini hari, Alhamdulillah aku masih ada waktu. Sedikit lagi pasti selesai.

Drttt…Drttt…Drttt hapeku bergetar.

“Bu Citra? Ada apa menelponku sepagi ini?”

“Assalamu’alaikum nak…” nadanya terisak.

Aku berlarian mengetuk kamar bang Rino dengan keras, seolah hilang akal. Ia datang menabrak tubuhku yang begitu kecil, memeluk, dan menangis lebih kencang dariku. Sebelum ibu meninggal dia berjanji akan memboyong istri dan ketiga anaknya kedesa lebaran tahun ini. Namun sayang ibu sudah meninggal sebelum keinginan tersebut tersampaikan. Dini hari itu juga kami segera mengabari anggota keluargaku yang lain.

***

Bang Rino berjalan menuju pintu rumah menggunakan kakinya. Lalu membuka pintu menggunakan tangannya. Aku ikut berjalan di sisinya bersama kak Intan yang masih menangis tersendu-sendu selepas melepas ibu ke pemakaman. Kamar ibu terlihat rapi. Sunyi. Ada sebuah tempat tidur jati, dengan kelambu putih yang terikat di empat sisi. Sepasang lemari juga yang terbuat dari kayu yang mulai reot. Di dalamnya baju ibu tersusun rapi dengan warna baju ibu yang selalu senda hitam dan putih. Terdapat foto ibu dan ayah sewaktu menikah. Ada juga foto mereka ketika menggendongku yang masih bayi. Sebuah foto ka’bah yang selalu ibu pandangi ketika hendak tidur.

“Yu, nanti kalau uang dari jual tempe sudah terkumpul banyak. Ibu pengen kita sama-sama ke tanah suci. Itu impian ibu yu…” kata itu seolah kembali terdengar olehku.

Kurasa buliran air mendarat di pipiku saat mengingat kenangan itu. “Bu aku lulus di UI jalur undangan…” kala itu aku memeluknya dari belakang saat melayani pembeli di pasar. Dia tersenyum senang tapi aku menangkap ada yang dipikirkannya.

“Kalau Ayu mau kuliah ibu ga masalah. Kamu anak yang pintar kalau kamu kuliah InsyaAllah kamu bisa merubah keadaan kita nak, tapi…”

“Hati-hati disana ya. Belajar yang rajin disana…”Aku mengusap air mataku yang mengalir dipipi.

 Di sebuah meja bundar di ruang tengah, aku bu Citra, bang Rino sedang duduk bersama. Bu Citra bilang ibu batuk berdarah selama dua hari kemudian hari berikutnya bu Citra membawa ibu ke rumah sakit. Qadarullah Allah lebih sayang dengan ibu, sehingga tepat pukul dua dini hari kemarin ibu meninggalkan aku dan bang Rino.

***

Agustus 2018 aku sudah menjadi apa yang kuinginkan, seorang  Dosen yang sibuk mengabdikan dirinya untuk pendidikan. Setahun yang lalu aku berhasil menamatkan program masterku di Harvard University dan kini aku menjadi seorang dosen di universitas tempatku menimba ilmu sebagai Sarjana. Kedua keponakanku sudah mulai besar, mereka senang berlarian mengelilingi rumah baruku, rumah hasil kerjaku.

E-mail itu kembali ku terima.

“Hay… Selamat Kau sudah menemukan dirimu. Maafkan aku yang sampai detik ini masih mengagumimu. ”

Namanya Bang Angga, salah satu seniorku sewaktu SMA. Mau tau siapa dia? Dia adalah calon suamiku yang dulu diam-diam berjuang merayu ibunya untuk mencarikan beasiswa untukku bisa menjadi seorang sarjana di Universitas Impianku. Alasanku menjauh darinya, karena aku merasa aku adalah anak seorang penjual tempe yang tak begitu setara dengannya. Sehingga aku selalu menolaknya saat ingin dekat denganku. Terlebih aku lebih segan dengan buk Citra, yang bagiku sangat berjasa untuk pendidikanku sampai saat ini. Terkejutnya aku tidak menyangka akan menjadi menantunya.

Hari ini, setelah sekian lama menjaga hati. Kami resmi menjadi seorang suami-istri. Berjuang untuk memantaskan diri agar derajat kami sebanding saat Tuhan memang benar-benar menyetujui.  Semua teman kantornya datang menghadiri pernikahan kami, begitupun temannya sewaktu duduk di bangku perkuliahan dahulu. Beberapa temankupun ikut menyaksikan moment sakral itu.

Begitulah sebuah mimpi mengantarkan si pemilik pada puncak bahagiannya. – Ayu

Untukmu para pejuang, jangan pernah berhenti mengejar cita dan cinta yang tentunya seharusnya di takdirkan untuk kamu, dengan terus menjaga hatimu.



Ya kisah ini adalah kisah kita, aku dan kamu. Setidaknya kita harus berani bermimpi, untuk mewujudkan cerita ini menjadi nyata.



Hari itu 2013, aku baru dinyatakan lulus dari salah satu SMA di sebuah desa kecilku, bernama Sumbusari. Lewat E-mail yang kamu kirim dari kota, kamu kemudian menanyakan padaku apakah aku akan melanjutkan kuliahku kesana? Kamu tahu saking bingungnya aku ingin bilang apa padamu aku hanya membalas pesanmu dengan emoticon senyum yang sering kugunakan saat aku tak ingin orang lain kecewa dengan keputusanku. Kamu kemudian menelponku dan tak menerima jawaban dariku.

Aku tau apa yang terbaik untuk kita, dan kurasa dirimu akan baik-baik saja.

Begitu isi E-mailku kepadanya. Sudah seminggu sejak E-mail itu terkirim. Tidak ada lagi balasan pesan darimu. Akupun memilih memfokuskan diri membantu ibu berjualan di pasar.

“Tempenya berapa satu bungkus nak , Ayu?” Saat itu ada pembeli tempe yang menanyakan harga tempe jualan ibuku. Ibu sedang tidak ada, ia sakit sudah dua hari yang lalu. Sudah dua hari aku menggantikannya.

“Eh buk Citra. Harganya sebungkus tiga ribu aja buk…”

“Oh begitu, ibu  beli lima bungkus ya…”

“Ayu kok masih disini bukannya kamu sudah harus registrasi ke Universitas kamu nak,”

“Hmmm, ibu masih sakit bu, ga bisa Ayu tinggal…”

Dalam hati saat itu rasanya aku ingin menangis dan memeluk bu Citra Wakil Kesiswaan yang telah banyak jasanya membantuku untuk mengetuk gerbang Universitas yang katanya sulit di tembus oleh anak-anak Desa sepertiku. Alhamduliilah aku berhasil lolos disana. Sebenarnya bukan ibu yang menjadi alasanku. Terlebih karena faktor ekonomi keluargaku.

“Ini bu tempenya...,” Ucapku menyerahkan sekantung pelastik berisikan tempe kepada bu Citra.

 “Ya sudah nak ya, ibu pulang dulu. Habis ini ibu ada jam di sekolah.” Ucapnya.

“Kalau ada kesuliatan ngurus kesana bilang ibu ya nak ya. Jangan sungkan juga main ke sekolah kalau mau pergi nanti ya…”

Sepulang dari pasar aku lihat ibu masih tertidur di pembaringanya. Aku teringat pembicaraan ami semalam.

“Kalau Ayu mau kuliah ibu ga masalah. Kamu anak yang pintar kalau kamu kuliah InsyaAllah kamu bisa merubah keadaan kita nak, tapi…” Ibu terdiam kerut di di bibirnya semakin jelas, dan sebulir air keluar dari pelupuk matanya membasahi lenganku yang kini mengusap wajah bayanya. Usianya kini sudah menginjak kepala lima. Sudah tidak mempunyai suami lagi. Ayah sudah meninggal sejak usiaku mulai memasuki sekolah dasar.  Ber-anakan aku dan Bang Rino yang kini sudah beristri di Kota. Jarang sekali menjenguk ibu kesini, karena kondisinya yang juga tidak jauh berbeda dari kondisi  kami, dia seorang buruh di Ibu kota. Pergi pagi, pulang pagi.

Minggu lalu aku menelponya dan menyatakan bahwa aku lolos di UI, dia senang akhirnya roda kehidupan akan mulai bergerak bila aku bisa berkuliah. Dia bilang dia akan rajin kerja demi membiayai kuliahku nanti di sana, aku boleh tinggal dirumahnya yang memang tidak bergitu jauh dari lokasi kuliahku. Juga dengan begitu aku bisa mengasuh ketiga anaknya yang masih kecil selagi istrinya bekerja.  Cerita di telpon saat itu panjang sekali, namun aku mengubur harapan itu dalam-dalam. Aku memutuskan untuk tidak menerima Undangan perguruan tinggi itu. Dia kecewa, sudah kutebak dari awal.

“Kenapa nak?” Tanya buk Citra. “Kalau soal biaya kamu ga usah khawatir Ayu. Biar ibu usahakan untuk mencarikan beasiswa untuk  kamu ya…”

“Kamu bisa berangkat ke Jakarta kok…”

“Ga papa buk, lagian dengan begitu saya jadi punya waktu buat ngurusin ibu saya buk yang sendiri di rumah.” Jelasku sewaktu di ruang kesiswaan.

            “Nggak, enggak. Kamu harus kuliah. Biar ibu bantu kamu ya. Soal ibu kamu nggak usah khawatir. Ayu sudah ibu anggap sebagai anak ibu sendiri. Begitupun ibu kamu sudah seperti kakak ibu sendiri nak. Ayu harus kuliah.”

“Yang penting sekarang kamu perbanyak doa saja ya nak yaa…”

Hari itu gerbang kemustahilan akan segera terbuka. Aku menjadi pemburu beasiswa. Segala berkas yang diperlukan kupersiapkan degan baik. Bolak balik kantor lurah dan kepala sekolah. Bu Citra sudah membakar semangatku.

E-mail Notificationku berbunyi kembali.

“Saat kita mulai menyerah disitulah kita bisa mulai mengatur jeda. Bukan ingin menyerah, tapi memastikan diri kembali kita pasti bisa.”

***

Hari itu semenjak sudah lamanya kamu tidak mengirim pesan akhirnya kamu mengirimnya padaku.

“Senang mendengar kamu kemabali. Maaf soal hari itu selamat datang.”

Saat itu aku sedang mengurus ketiga keponakanku. Ibunya sedang bekerja di rumah tetangga menjadi seorang buruh cuci baju setiap harinya. Hari ini ketiga keponakanku beruntung dapat bertemu dengan ku bibinya sejak mereka lahir aku hanya bisa melihat wajahnya dari foto yang dikirim lewat E-mail dari bang Rino.

E-mail itu sudah berniat ku balas pesannya, tapi sedetik kemudian aku menghentikannya. Jam dinding sudah menunjukkan waktu ashar. Ketiga keponakan ku sudah tidur. Aku bisa sholat dan mengerjakan  tugas kuliahku yang mulai menumpuk sekarang.

“Assalamu’alaikum ibu? Ibu sehat-sehat aja disana buk?”

“Alhamdulillah ibu sehat. Gimana keadaan ayu disana? Kuliah yang rajin ya? Gimana keadaan abangmu? Gimana cucu-cucu ibu nak? Ganteng dan cantik ya? Ibu jadi pengen kesana juga. Entah kapan ibu bisa melihat cucu-cucu ibu”

Uhuk…Uhuk…Uhuk…Aku dengar ibu sedikit terbatuk. “Ibu masih sakit? Sudah minum obat?” Aku mulai khawair.

“Ibu sudah sembuh, ga perlu dipikirkan. Gimana dengan ponakan mu” katanya. Sepertinya ibu tak ingin membahas tentang sakitnya lagi.

“Mereka cantik-cantik dan ganteng buk. Sama kayak kak Intan dan bang Rino, mirip sekali bu.”

Hari itu sepertiya ibu berbohong. Ibu masih sakit, aku tau. Diam-diam aku menelpon bu Citra menanyakan kabar ibu.

“Jangan khawatir, ada ibu. Ibu yang bakal merawat ibu mu di sini Ayu. Kamu fokuskan diri mengejar Impiamu ya sayang. Semangat selalu. Jangan pernah berhenti, jangan menyerah”

Seminggu ini E-mailku sibuk menerima pesan dari nya. Setiap satu jam E-mail tak berhentian datang bergiliran. Aku memilih mengacuhkannya. Membuka E-mail yang penting-penting saja.

Maaf, saldo Anda tidak cukup untuk melakukan transaksi ini…

Pesan di layar ATM itu terus membayang di kaca silinder ku. Hufff sepertinya aku harus mengikat pinggang minggu ini. Belakangan aku menjadi seorang pemboros karena terlalu sering mem-print tugas laporan di luar. Aku tidak mungkin merepotkan bang Rino untuk masalah uang. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga saja susah apa lagi untuk memenuhi kehidupanku.

Lampu ruang tengah hidup mati, hidup mati. Ketiga ponakan kecilku sudah terlelap diasuh oleh ibunya akhirnya aku bisa tenang mengerjakan laporan. Lingkaran merah di kalender menunjukkan bahwa sebulan lagi hari raya Idul fitri tiba, aku menyesal tak menyiapkan uang tastis untuk jaga-jaga sewaktu ingin pulang ke desa bertemu ibu. Tapi aku janji kalau lamaranku di toko itu masuk, cukup tidak cukup gaji pertamaku akan ku kasih ibu ketika aku pulang.

Aku tersentak dan terjaga. Sepertinya aku ketiduran dengan posisi memeluk laporan seniorku. Ya Allah, laporan ini harus dikumpul nanti pagi. Ya ampun, matilah aku. Pukul dua dini hari, Alhamdulillah aku masih ada waktu. Sedikit lagi pasti selesai.

Drttt…Drttt…Drttt hapeku bergetar.

“Bu Citra? Ada apa menelponku sepagi ini?”

“Assalamu’alaikum nak…” nadanya terisak.

Aku berlarian mengetuk kamar bang Rino dengan keras, seolah hilang akal. Ia datang menabrak tubuhku yang begitu kecil, memeluk, dan menangis lebih kencang dariku. Sebelum ibu meninggal dia berjanji akan memboyong istri dan ketiga anaknya kedesa lebaran tahun ini. Namun sayang ibu sudah meninggal sebelum keinginan tersebut tersampaikan. Dini hari itu juga kami segera mengabari anggota keluargaku yang lain.

***

Bang Rino berjalan menuju pintu rumah menggunakan kakinya. Lalu membuka pintu menggunakan tangannya. Aku ikut berjalan di sisinya bersama kak Intan yang masih menangis tersendu-sendu selepas melepas ibu ke pemakaman. Kamar ibu terlihat rapi. Sunyi. Ada sebuah tempat tidur jati, dengan kelambu putih yang terikat di empat sisi. Sepasang lemari juga yang terbuat dari kayu yang mulai reot. Di dalamnya baju ibu tersusun rapi dengan warna baju ibu yang selalu senda hitam dan putih. Terdapat foto ibu dan ayah sewaktu menikah. Ada juga foto mereka ketika menggendongku yang masih bayi. Sebuah foto ka’bah yang selalu ibu pandangi ketika hendak tidur.

“Yu, nanti kalau uang dari jual tempe sudah terkumpul banyak. Ibu pengen kita sama-sama ke tanah suci. Itu impian ibu yu…” kata itu seolah kembali terdengar olehku.

Kurasa buliran air mendarat di pipiku saat mengingat kenangan itu. “Bu aku lulus di UI jalur undangan…” kala itu aku memeluknya dari belakang saat melayani pembeli di pasar. Dia tersenyum senang tapi aku menangkap ada yang dipikirkannya.

“Kalau Ayu mau kuliah ibu ga masalah. Kamu anak yang pintar kalau kamu kuliah InsyaAllah kamu bisa merubah keadaan kita nak, tapi…”

“Hati-hati disana ya. Belajar yang rajin disana…”Aku mengusap air mataku yang mengalir dipipi.

 Di sebuah meja bundar di ruang tengah, aku bu Citra, bang Rino sedang duduk bersama. Bu Citra bilang ibu batuk berdarah selama dua hari kemudian hari berikutnya bu Citra membawa ibu ke rumah sakit. Qadarullah Allah lebih sayang dengan ibu, sehingga tepat pukul dua dini hari kemarin ibu meninggalkan aku dan bang Rino.

***

Agustus 2018 aku sudah menjadi apa yang kuinginkan, seorang  Dosen yang sibuk mengabdikan dirinya untuk pendidikan. Setahun yang lalu aku berhasil menamatkan program masterku di Harvard University dan kini aku menjadi seorang dosen di universitas tempatku menimba ilmu sebagai Sarjana. Kedua keponakanku sudah mulai besar, mereka senang berlarian mengelilingi rumah baruku, rumah hasil kerjaku.

E-mail itu kembali ku terima.

“Hay… Selamat Kau sudah menemukan dirimu. Maafkan aku yang sampai detik ini masih mengagumimu. ”

Namanya Bang Angga, salah satu seniorku sewaktu SMA. Mau tau siapa dia? Dia adalah calon suamiku yang dulu diam-diam berjuang merayu ibunya untuk mencarikan beasiswa untukku bisa menjadi seorang sarjana di Universitas Impianku. Alasanku menjauh darinya, karena aku merasa aku adalah anak seorang penjual tempe yang tak begitu setara dengannya. Sehingga aku selalu menolaknya saat ingin dekat denganku. Terlebih aku lebih segan dengan buk Citra, yang bagiku sangat berjasa untuk pendidikanku sampai saat ini. Terkejutnya aku tidak menyangka akan menjadi menantunya.

Hari ini, setelah sekian lama menjaga hati. Kami resmi menjadi seorang suami-istri. Berjuang untuk memantaskan diri agar derajat kami sebanding saat Tuhan memang benar-benar menyetujui.  Semua teman kantornya datang menghadiri pernikahan kami, begitupun temannya sewaktu duduk di bangku perkuliahan dahulu. Beberapa temankupun ikut menyaksikan moment sakral itu.

Begitulah sebuah mimpi mengantarkan si pemilik pada puncak bahagiannya. – Ayu

Untukmu para pejuang, jangan pernah berhenti mengejar cita dan cinta yang tentunya seharusnya di takdirkan untuk kamu, dengan terus menjaga hatimu.



Komentar